
Saat kita harus memilih dalam pilihan yang sulit, kadang kita mengandalkan nurani saja. Saat 8 Juli 2009 nanti kita harus memilih pemimpin kita sendiri.
Pilihan-pilihan yang harus dipilih masing-masing memendam dendam masa lalu dan masa kini. Pemimpin yang saling menjegal, menjatuhkan dan meruntuhkan akibat dendam pribadi satu sama lain.
Pemimpin yang emosi lebih dipentingkan daripada logika kepada pengabdian tulus pada pertiwi. Pemimpin yang seharusnya bisa memimpin dirinya sendiri sebelum berniat memimpin orang lain bahkan sebuah bangsa yang besar.
Nurani kita sebagai pemilih akhirnya terbentur juga pada kesadaran bahwa ternyata nuranipun sulit berkompromi dengan keadaan dan fakta yang ada.
Lalu kenapa kita tak memohon pada Tuhan, sekiranya pemimpin itu terpilih biarkan Tuhan yang mengajarkannya utk bisa memimpin dirinya sendiri dulu sebelum akhirnya memimpin bangsa dan negara.
Bila nurani kita telah identik dengan petunjukNya, barulah kita tetapkan hati untuk memilih. Tetapi bila nurani tak bisa menyuarakan suara Tuhan, maka tak perlu bersitegang untuk mencoba memilih.
Pilihan-pilihan yang harus dipilih masing-masing memendam dendam masa lalu dan masa kini. Pemimpin yang saling menjegal, menjatuhkan dan meruntuhkan akibat dendam pribadi satu sama lain.
Pemimpin yang emosi lebih dipentingkan daripada logika kepada pengabdian tulus pada pertiwi. Pemimpin yang seharusnya bisa memimpin dirinya sendiri sebelum berniat memimpin orang lain bahkan sebuah bangsa yang besar.
Nurani kita sebagai pemilih akhirnya terbentur juga pada kesadaran bahwa ternyata nuranipun sulit berkompromi dengan keadaan dan fakta yang ada.
Lalu kenapa kita tak memohon pada Tuhan, sekiranya pemimpin itu terpilih biarkan Tuhan yang mengajarkannya utk bisa memimpin dirinya sendiri dulu sebelum akhirnya memimpin bangsa dan negara.
Bila nurani kita telah identik dengan petunjukNya, barulah kita tetapkan hati untuk memilih. Tetapi bila nurani tak bisa menyuarakan suara Tuhan, maka tak perlu bersitegang untuk mencoba memilih.





